MAAF BLOG INI DALAM MASA PERBAIKAN | TERIMAKASIH

Monday, November 5, 2007

Cerita Seorang Dosen

Orang itu masih duduk di tempat yang sama, duduk di taman rumput pinggir jalan, memakai topi, dan tidak melakukan apapun kecuali sekedar duduk-duduk saja. Begitulah yang kulihat ketika berangkat kerja di pagi hari, demikian pula yang kulihat ketika pulang di sore hari. Orang itu masih duduk di tempat sama, dan tidak melakukan apa-apa.

Kemudian terpikir dalam benak ini, apakah saya lebih capek hari itu dibandingkan dia? Rasanya tidak juga. Sepertinya dia juga mengalami kelelahan, mungkin kelelahan mental. Tampaknya duduk bengong seharian akan sama capeknya dengan bekerja seharian.

Pekerjaan saya sekarang ini memberikan keleluasaan dalam mengatur waktu kerja. Tidak leluasa amat, tapi boleh datang agak lambat atau pulang agak cepat. Terkadang saya sengaja tidak pergi ke kantor dan memilih bekerja di rumah, apakah itu menulis, mengoreksi ujian, membaca, dan kadang pula istirahat karena sebelumnya pergi ke luar kota. Yang saya rasakan, tidur melulu sepanjang hari, lalu berusaha tidak melakukan apapun, hanya nonton TV misalnya, betul-betul kegiatan yang membosankan dan melelahkan pikiran. Rasanya diri ini tak berharga, tak menghasilkan apa-apa, dan hanya membuang waktu seharian (sementara umur kita makin pendek). Useless. Perasaan tak berharga itu sungguh melelahkan.

Jadi saya tahu bahwa nganggur itu tidak enak, membosankan, melelahkan. Sama capeknya dengan orang bekerja. Karena itu bila Anda sekarang memiliki pekerjaan, bercapek-capek pergi dari rumah ke kantor, berimpitan di KRL (Kereta Rel Listrik) maupun bis umum, terpaksa lari menghindari hujan maupun berkeringat di terik matahari, dan masih ditambah menghadapi bos yang kurang menyenangkan, maka BERGEMBIRALAH bahwa Anda punya pekerjaan dan tidak nganggur. Nganggur itu tidak enak.

Saya terkadang bilang ke mahasiswa saya, “Tahu tidak bahwa kuliah itu berat, namun tidak kuliah itu lebih berat!” Ya, nganggur, apalagi dengan ketidakpastian dan kecilnya peluang masa depan, merupakan kegiatan yang berat, lebih berat daripada mengerjakan tugas kuliah dan ujian.

Nganggur dan bekerja itu sama capeknya.

Bekerja dan ibadah

Bekerja dan ibdah pun sama capeknya. Siapa bilang ibadah itu lebih capek?

Rekan saya dari New York suatu ketika pergi ke Indonesia untuk membentuk tim programmer buat bisnisnya di Amerika. Dia percaya tenaga Indonesia itu handal dan berkualitas, sementara biaya memang relatif jauh lebih hemat dibandingkan di Amerika. Pekerjaan bisa dikirim lewat internet, karena kebetulan data yang dibutuhkan berbentuk digital. Ketika proses mewawancara para pelamar, dia memberikan pengantar yang menekankan perbedaan bekerja saja dengan bekerja sebagai ibadah. Dia adalah muallaf yang taat. Kira-kiranya begini terjemah bebasnya (dia ngomong dalam bahasa Inggris, dan kami manggut-manggut pura-pura ngerti), “Sekedar bekerja, dengan bekerja sebagai ibadah itu sama capeknya. Seorang programmer sibuk bekerja keras hingga malam, sampai hampir pecah kepalanya. Dan programnya mungkin juga tidak jalan. Programmer lain juga bekerja keras hingga malam, sampai hampir pecah kepalanya, namun dia berniat kerja sebagai ibadah. Hasilnya program mungkin juga tidak jalan, tapi dia mendapatkan pahala dari kerja kerasnya tersebut. Sama-sama kerja keras, sama-sama capek, tapi hasilnya berbeda.” Begitulah kira-kira yang dia sampaikan waktu itu, saya agak lupa persisnya, tapi kira-kira begitulah isinya.

Kerja dan ibadah itu sama capeknya. Tapi hasilnya beda, yang satu hanya duniawi (itupun sering luput), yang satunya plus ukhrowi mendapat hasil akhirat juga. Nah, bila Anda bekerja dengan tujuan plus ibadah, maka BERBAHAGIALAH. Anda sama capeknya dengan teman Anda sekedar bekerja, namun Anda mendapat pahala yang tidak akan didapatkan bila hanya sekedar bekerja.

Di manakah perbedaannya?

Lalu apa yang membedakan nganggur, kerja, dan ibadah, kalau akibatnya sama-sama capek?

Bedanya nganggur dengan kerja itu hanyalah MENAMBAHKAN TUJUAN PRODUKTIF dari apa yang kita lakukan. Bengong di pinggir jalan bila kemudian diberi tujuan untuk mengamati perilaku konsumen bisa bernilai kerja. Sama-sama duduk di pinggir jalan, namun karena ditambahkan tujuan produktif maka kegiatan itu menjadi bernilai.

Lalu apa bedanya bekerja dengan ibadah? Beribadah itu bukan hanya masalah shalat. Semua yang kita lakukan di dunia asalkan selaras dengan perintah Tuhan, maka kegiatan itu bisa bernilai ibadah. Yang perlu kita lakukan hanyalah MENAMBAHKAN NIAT IKHLAS dalam kerja kita itu. Apa itu ikhlas? Ikhlas itu artinya mengharapkan balasan sesuai kehendak Tuhan. Jadi kalau kita sudah usaha keras, bersungguh-sungguh, dengan niat baik, dan ridha/rela dengan apa pun hasilnya, itu sudah ikhlas. Kalau kita masih mengharapkan hasil sesuai mau kita sendiri, dan marah-marah kalau hasilnya tidak sesuai, berarti itu belum ikhlas. Tugas manusia itu menyempurnakan usaha, hasilnya sesuai dengan aturan Tuhan, kadang seperti yang kita perkirakan, sering pula beda jauh dari yang kita harapkan. Kalau kita rela dengan hasilnya maka kita ikhlas. Jadi, berusaha kerja sungguh-sungguh menyempurnakan usaha adalah bentuk ikhlas, karena motif kita bukan cuma uang gaji atau dari marah si Bos, tapi karena memberi kontribusi positif itu adalah sesuatu yang selaras dengan perintah Tuhan. Kita ikhlas dalam menempuh usaha untuk menjalani kehidupan. Kalau kita dihadapkan pada dilema mengambil barang haram atau meninggalkannya (dengan resiko kita kelaparan), lalu kita memilih meninggalkannya karena perintah Tuhan, ini juga bentuk ikhlas (karena yakin rizki itu dariNya). Kita ikhlas dengan kesempatan dan jalan rizki yang diberikan. Kalau hasil usaha kita tidak sesuai, maka kita rela dan niat akan berusaha lebih baik dan lebih cerdas untuk selanjutnya. Kita ikhlas dengan hasil kerja keras kita.

Jadi bedanya nganggur dengan kerja sangatlah tipis, yaitu sebuah tujuan produktif. Banyak orang tampak nganggur, namun dia sebenarnya sedang merancang sesuatu dalam pikirannya. Ini bekerja namanya. Sebaliknya banyak orang tampak sangat sibuk, namun sebenarnya hanya pelarian dan kamuflase saja. Ini pura-pura kerja namanya. Alva Edison, pendiri General Electric, bilang,

Being busy does not always mean real work. The object of all work is production or accomplishment and to either of these ends there must be forethought, system, planning, intelligence, and honest purpose, as well as perspiration. Seeming to do is not doing. (Edison)

Seeming to do is not doing. Tampak giat bukanlah kerja. Hanya ketika ada tujuan produktif dari kegiatan tersebut barulah disebut bekerja. Makanya kita sering jengkel dengan orang yang rajin masuk kantor hanya untuk duduk-duduk dan ngerumpi hingga sore. Sibuk tapi tidak bekerja.

Setipis itu pula bedanya bekerja dengan beribadah. Ketika kita menambahkan niat yang benar dalam kita bekerja, maka nilai pekerjaan itu menjadi berlipat ganda, dunia dan akhirat. Kalau begitu kita harus niat terus sepanjang waktu dong? Tidak juga, selama hari itu dimulai dengan Bismillah, dan kemudian yang kita lakukan sepanjang hari itu selaras dengan perintah Allah (tidak maksiat, tidak berbuat jahat, tidak menyakiti orang lain, tidak mengambil yang haram, dsb), maka keseluruhan kegiatan hari itu (termasuk mandi pagi, lari-lari mengejar bis, dll) menjadi ibadah bagi orang tersebut. Niat itu dimulai saat awal, lalu dijaga saja sepanjang hari, maka kerja menjadi ibadah.

Nganggur, kerja, ibadah, sama capeknya beda hasilnya. Nganggur tidak mendapatkan apapun, kerja mendapat hasil dunia, ibadah mendapat dunia akhirat.

nganggurkerja

PS: Ngeblog pun sama saja. Kalau ngeblog tanpa tujuan maka nilainya sama dengan pengangguran, kalau diberi tujuan yang produktif (berbagi ilmu misalnya, atau jualan) maka bernilai kerja, dan ketika ditambahkan niat tulus (membagi ilmu untuk menebar manfaat bukan sekedar mencari ketenaran diri, jujur tidak manipulatif, dll) maka dia menjadi ibadah. Baca blog pun sama saja. Kalau hanya iseng maka itu namanya pelarian pengangguran, kalau ditambahkan tujuan produktif (menambah ilmu, menambah kenalan, belajar) maka dia berfungsi seperti bekerja (perusahaan layak membayar internet untuk karyawan seperti ini), dan kalau ditambahkan niat tulus untuk ibadah (menjauhkan diri dari maksiat, pilih-pilih blog yang bermanfaat, dll) maka membaca blog pun adalah ibadah. Menguntungkan bukan? Small thing can make a big difference!


READMORE...

Thursday, October 25, 2007

I Hate Hoax

I Hate Hoax

hoax adalah usaha untuk memperdaya orang-orang agar mempercayai sesuatu yang salah adalah benar.

Belajar Membuat Hoax Sendiri

Beberapa orang masih bingung membedakan antara spam dan hoax. Gampangnya, spam adalah email yang berisi iklan suatu produk/website tertentu dimana kita tidak menginginkan menerima email tersebut, keterangan lengkap bisa dilihat di wiki. Sementara itu, hoax adalah berita bohong atau berita palsu.

Hoax beredar di mana saja: email, bulettin friendster, Yahoo Messenger, bahkan SMS. Sebelum dapat membedakan hoax dan bukan, mari kita belajar membuat hoax.

Langkah-langkah membuat hoax.
- Pilih topik yang unik
Tidak harus berhubungan dengan dunia komputer, boleh kesehatan, keuangan, kemanusiaan, atau bahkan tentang cuaca. Coba yang sepele dulu, tapi setiap hari digunakan orang,

misalnya “mouse”.

- Cari ‘masalah’
Carilah yang kira-kira akan membuat orang mengernyitkan dahi dan berupaya untuk memberitahukan teman-temannya. Misalnya:

“Penggunaan optical mouse dapat menimbulkan Kanker”

- Gunakan istilah-istilah ilmiah

Usahakan yang sudah diketahui oleh banyak orang. Jangan lupa berikan data-data berupa angka.

“Kenyamanan optical mouse ternyata mempunyai efek samping yang berbahaya. Tiga tahun sem

enjak

peluncuran pertama optical mouse oleh microsoft, telah ditemukan ribuan kasus kelainan pada jaringan tangan

akibat radiasi yang dipancarkan mouse. Optical mouse bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi ke permukaan di bawahnya. Frekuensi yang digunakan jauh lebih tinggi dari

pada pada handphone.

Telah diketahui secara luas bahwa telapak tangan dan kaki merupakan pusat ujung-ujung syaraf tubuh. Radias

i yang dirasakan oleh telapak tangan bisa berpengaruh fatal pada kesehatan, karena menurut laporan WHO

radiasi dari mouse setara 5 kali radiasi handphone. Akan tetapi radiasi mouse menjadi berbahaya karena

dipegang terus menerus oleh pemakai komputer.

Pengaruh radiasi dari mouse lebih terasa pada produk-produk berkualitas rendah, karena produk-produk yang

bagus memiliki shield (pelindung) untuk melindungi pergelangan tangan. “

- Tambahkan alamat kantor berita di internet

“WHO, GreenPeace, dan CNN sudah menghentikan penggunaan optical mouse untuk seluruh kegiatan di

kantornya, sementara Microsoft dan IBM mengucurkan dana sekitar 2milyar dolar untuk kerjasama

pembuatan pointing device yang lebih aman.

Industri-industri hardware terbesar di cina dan taiwan berusaha menutup-nutupi hal ini. Jika diperhatikan,

mouse-mouse optical yang beredar di pasaran saat ini diproduksi oleh merk-merk yang tidak terkenal, padahal itu hanyalah sisa produksi industri besar yang sudah menghentikan penjualan.”

- Berikan solusi yang tidak kalah gebleknya

“Untuk itu, cobalah memegang mouse hanya di saat diperlukan saja. Berlatihlah menggunakan Hotkey (Ctrl-C,

Ctrl-V untuk kopi paste). Kembalilah menggunakan mouse model lama (bola)”.

- Tambahkan kata-kata ajaib

“Sekedar untuk berjaga-jaga, seorang temanku sudah kena 2 hari yang lalu. Tolong teruskan ke orang-orang

yang anda sayangi”.

*hihihi*

- Berikan efek forward.
Agar seolah-olah email ini didapat dari kalangan eksklusif, atau dari milis yang berkaitan, beri efek forward pada judul

email

“Fwd:[milis-kesehatan]Mouse Optical dapat menyebabkan kanker (PENTING!!!)”.

Gampang? Tentu Saja

Dari uraian diatas semoga bisa terlihat betapa mudahnya orang membuat hoax di internet. Oleh karena itu, setelah da

pat membuat hoax sendiri seperti di atas, kita dapat membedakan mana berita hoax dan mana berita yang benar. Semakin banyak orang yang bisa mengerti ciri-ciri hoax, semakin sedikit sampah yang akan beredar di internet.

Bagaimana memeriksa apakah suatu berita itu Hoax atau bukan?
1. Gunakan logika saja. misalnya “forward berita ini sebagai tanda bahwa account anda aktif, karena friendster terlalu

penuh dan akan menutup account yang tidak aktif”. Yang benar saja gitu loh, dengan satu query di database saja sudah kelihatan kapan suatu account terakhir login, lagipula mana ada online industry yang menutup kliennya dengan semena-mena.

2. Jika ada link, coba cari di link tersebut

3. Tanyakan pada rekan yang lebih memahami hal ini

4. Tanya paman google

Dalam urutan ‘penyampah internet’, menurutku hoax berada setingkat lebih tinggi daripada spam. Orang membuat spam

untuk sekedar mencari makan, mungkin untuk anak-anaknya atau istri-istrinya. Sedangkan orang membuat hoax tak lain hanyalah untuk kepuasan pribadi : berhasil membohongi orang banyak. (Junk mail tergolong sampah jinak)

Membuat hoax tidak menjadikan seseorang mendapatkan keuntungan apapun, kecuali kesenangan semu karena ‘hasil

karya’nya beredar luas di internet. Sementara itu, ribuan bahkan jutaan orang yang bekerja pada industri yang berkaitan mengalami kerugian karena produknya tiba-tiba saja tidak laku. Sementara ribuan orang yang lain mengalami kecema

san (fraud) akibat membaca hoax tersebut.

Ketahuilah, hanya ciken yang membuat hoax dan menyebarkannya, dan hanya idiot yang memforwardnya. Selamat

kan internet dari sampah berbahaya, sebarkan informasi ini pada teman-teman yang anda sayangi. *halah*

link terkait :

READMORE...